Reviews Buku

Thursday, December 07, 2006

Baskoro mengenang Chicago


Judul : Chicago, Chicago
Penulis : Baskara T Wardaya
Penerbit : Galang Press
Cetalan : pertama, 2006
Tebal : 278 halaman

Buku yang mengabil gaya bercerita ini merupakan hasil refleksi seorang manusia akan realitas sekitarnya. Penulisnya, yang memang seorang Romo dan yang pasti sudah menduduki posisi sebagai seorang yang suci, otomatis segala kehidupannya diisinya dengan membaktikan diri kepada kepentingan sosial selain bertanya tentang apa yang mampu ia perbuat bagi manusia lain di sekililingnya.
Di dalam buku ini tidak semata hanya bercerita tentang diri pribadi Baskoro, tapi juga menceritakan kehihupan-kehidupan yang dekat dengannya, serta teman-teman atau orang yang sempat ia temui dalam perjalan hidupnya. Dengan religiusitas dan humanitasnya yang tinggi, tak mengherankan bahwa di tengah-tengah kesibukan penelitiannya, Baskara tidak luput dari kancah pergumulan-pergumulan hak asasi manusia sedunia, yang seringkali mengambil AS sebagai gelanggang. Dalam konferensi PBB tentang HAM pada musim panas 19992, Ia berjumpa dengan Lilu, seorang veteran gerakan mahasiswa Tiongkok yang luput dari pembantaian di Tiannamen, tanggal 4 Juni 1989.
Setelah itu keduanya lama tak berjumpa atau berkomunikasi, tahu-tahu bahwa di bulan Mei 1996 itu Lilu, si pejuang demokrasi telah lulus dari Columbia University di New York. Selain perjumpaan kembali dengan Li Lu, Baskara juga pertama kali berjumpa da sekaligus mewancarai sastrawan hebat kita, Pramoedya Ananta Toer, satu-satunya penulis yang menjadi kandidat Nobel sastra dunia, di kota New York di musim semi 1999.
Dalam wawancara dengan Pramoedya ini ada teman sesama pewawancara yang bertanya soal budaya Indonesia, Pram langsung menunjukkan sikap kritisnya, "Budaya Indoensia itu adalah budaya Bapak-isme", katanya "dari dulu sampai sekarang semua harus dilakukan dalam kelompok, dan secara kolektif kekuasaan diserahkan pada seseorang yang biasa disebut dengan Bapak. Tak ada yang berani berpikir secara individual. Menurut Pram baru pada jaman Chairil Anwar mulai muncul pemikirann individual, sebagaiamana dicerminkan dalam puisinya yang berjudul Aku (118-119).
Dari cerita-ceritanya Baskoro, kota New York cukup berarti bagi studi dan pengembaraannya di AS. Kalau begitu kenapa tidak memilih judul New York, New York bagi bukunya ini ? ternyata karena Chicago yang paling merebut tempat dan waktu dalam pengalaman studi Baskara. Maklumlah Chicgo merupakan kota besar terdekat ke Milwauke, di mana kampus universitas Marquette berada. Tempat ia melanjutkan studi Magister serta doktoralnya sekaligus.
Di tengah kehidupan yang serba keras di AS, ada satu kelompok minoritas yang dijumpai oleh Baskara dalam masa studinya. Satu kelompok minoritas di mana keluaraga itu telah mengangkatnya menjadi anak angkat mereka. Itulah masyarakat Eropa yang non-Anglosaxon, yang aslinya tak berbahasa Inggris, yakni masyarakat Cajun, keturunan para imigran Prancis yang mendiami Lousiana, salah satu negara bagian AS. Walaupun di tempat-tempat umum mereka diharuskan berbahasa Inggris.
Berjibunnya pengalaman yang manis dengan Orang-orang AS yang secara umum dikategorikan sebagai "orang Barat" membuat Ia mempertanyakan kembali dikotomi "Orang Barat versus orang Timur" yang sering diajarkan guru-guru kita di Indonesia.orang Barat selama ini dinggap sebagai orang yang tidak ramah, kasar dalam tingkah laku, individualistis. Sedangkan orang timur adalah orang yang ramah, berbudi halus dan suka menolong sesamanya. Di mata guru tersebut dunia Barat penuh dengan adat yang kurang terhormat, sedang dunia timur itu berlimpah dengan kultur yang bersifat luhur. Mungkin apa yang dikategorikan itu benar tetapi, juga juga tak sepenuhnya demikian, artinya, bisa saja bahwa orang Timur itu mendekati semua ciri tersebut, namun bisa juga gambaran tentang orang-orang Barat itu tak sepenuhnya benar.
Selain itu, ada satu paradoks yang dicatat dengan jeli oleh Penulis buku ini, yakni kehadiran orang-orang Indonesia yang kaya raya sebagai pelanggan barang mewah di toko-toko mahal di Michigan Avenue, Chicago. Ini sangat mengherankan sebab di tengah-tengah kemiskinan dan penderitaan yang dialami rakyat kebanyakan Indonesia mereka masih saja sempat berpoya-poya.
Sebagai akhir, terlepas dari kelebihan maupun kekurangan, buku ini tetap layak untuk dijadiakan cerminan hidup kita yang notabene sudah mengarungi lika-liku kehidupan yang serba keras ini. Sehingga tak heran jika suatu kesalahan sering kita lakukan, baik itu dalam keadaan sadar atau pun tidak.

Saturday, October 14, 2006

Zakat dan Misi Sosial

Oleh: Akhmad Kusairi*

Zakat adalah suatu institusi keagamaan yang merupakan salah satu dari tiang-tiang tertinggi dalam agama Islam. Ia adalah salah satu syiar agama dan identitas masyararakat Islam. Di samping sebagai ibadah, zakat juga mengemban misi sosial dalam prakteknya. Allah selalu menolong hamba-Nya, selama hamba-Nya menolong sesamanya ( al-Hadist). Begitu tinggi posisi zakat sehingga ia ditempatkan sebagai salah satu rukun dalam agama Islam. Penempatan zakat sejajar dengan rukun Islam itu mengindikasikan bahwa seorang manusia dalam kacamata Islam belum dianggap sempurna Islamnya sebelum bersedia mengeluarkan sebagian hartanya untuk keperluan masyarakat yang dalam keadaan sangat membutuhkan.
Sekarang yang terpenting adalah bagaimana zakat memainkan peranannya di tengah himpitan kemiskinan sosial dan ekonomi? Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian dan inteletual, telah menawarkan beberapa solusi dalam menyikapi realitas tersebut. Salah satunya konsep Zakat sebagaimana telah disinggung di atas. Zakat dalam Islam bertujuan untuk meminimalisasikan kesenjangan sosial antara si kaya dan si meiskin (kaum borjuis dan proletar seperti thesis-nya Marx dengan sosialismenya) agar tercipta bangunan keadilan dan pemerataan kesejahteraan.
Zakat dalam konsep Islam terbagi menjadi dua, yaitu zakat Mal dan zakat Fitrah. Zakat Mal adalah bagian dari harta kekayaan seseorang atau badan hukum yang harus diberikan kepada orang-orang tertentu, dan bisa dikeluarkan kapan saja tanpa mengenal waktu. Berbeda dengan zakat Mal, zakat Fitrah hanya bisa dikeluarkan pada bulan Ramadhan, dengan batasan-batasan dan syariat yang berbeda. secara umum tujuan dari kedua zakat itu adalah sama, yaitu demi kesejahteraan sosial. Mungkin yang jadi persoalan sekarang adalah tentang standardisasi miskin atau kayanya seseorang, karena itu akan berpengaruh pada pengeluaran zakat. Sebab orang akan berpikir apakah wajib menerima atau mengeluarkan zakat.
Kaya dan miskin merupakan dua sisi mata uang yang tak dapat berbeda tetapi saling melengkapi dan membutuhkan. Orang miskin tanpa orang kaya, tak akan bisa hidup. Sedang orang kaya tanpa orang miskin akan susah. Realitas seperti ini menimbulkan suatu problema tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat.
Jika dipandang dari sudut teori, penyebab kemiskinan tak lain adalah adanya hierarki socio-ecomic di tengah masyarakat. Hierarki ini dapat berupa persaingan yang tak sehat dalam hal ekonomi, adanya hasrat menguasai (seperti analisis Marx), dan lain sebagainya.
Berangkat dari realitas itulah, kemudian zakat dengan misinya mencoba menekan sekecil mungkin angka kemiskinan masyarakat. Zakat yang dalam akar katanya berasal dari bahasa Arab dari kata dasar (fiil madhi) zaka yang berarti berkah, tumbuh dengan subur, sejak dari jaman klasik hingga jaman posmodernisme sekarang telah menjadi sebuah rutinitas dalam masyarakat Islam terutama di bulan Ramadhan.
Selama ini kita mungkin hanya mengenal konsep zakat di kalangan muslim, sebenarnya kalau boleh jujur konsep zakat tak hanya ada di dalam Islam, tetapi hampir semua agama besar di dunia juga menerapkan zakat. Namun simbol dan bahasa yang digunakan saja yang berbeda. Dalam hal ini perbedaan hanya sebatas pada form saja, karena dalam esensi dan eksistensi, tujuannya sama dengan Islam. Dalam Hindu konsep zakat dikenal dengan Datria Datrium. Dalam Buddha, konsep sejenis disebut sebagai Etika atau Sutta Nipata. Sedang bagi agama Kristian menjadikan Tithe sebagain konsep zakat.
Jadi dalam mengatasi pernmasalahan-permasalah sosial khusunya kemiskinan, semua agama mempunyai cara (solusi) tersendiri dengan bungkus yang berbeda-beda, sebab problema kemiskinan itu tak hanya terjadi dalam masyarakat Islam. Tetapi juga agama-agama lain juga mengalami hal yangs serupa, dengan kata lain problema kemiskinan sudah menjadi problema global.
Zakat dan berbagai macam bentuknya tadi menurut penulis merupakan solusi yang solutif guna memerangi kemiskinan seperti sekarang ini. Terus apa relasinya dengan dunia pendidikan, dalam hal ini zakat digunakan untuk biaya pendidikan? Menurut penulis relasinya sudah sangat jelas, dengan artian masalah utama pendidikan sekarang, terutama di Indoenesia adalah minimnya dana bagi orang yang mau mengenyam pendidikan. Sehingga membentuk paradigma umum bahwa “Orang Miskin dilarang sekolah” tulis Eko Prasetyo dalam bukunya.
Akhirnya dalam mengatasi masalah minimnya biaya untuk pendidikan, penulis berpendapat bahwa zakat dan berbagai bentuknya tadi merupakan solusi yang terbaik, yang sedikit sekali negatif effect-nya, dibanding dengan solusi ngutang ke luar negeri untuk mendapatkan dana sepeti yang dilakukan pemerintah Indonesia sekarang.

· Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ushuluddin jurusan Aqidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tuesday, October 10, 2006

Gratifikasi sebagai Legalisasi Korupsi

Akhmad Kusairi*

Membicarakan korupsi di ranah internasional tentunya sangat beda jika dibicarakan di tingkat lokal, dalam hal ini Indonesia yang sudah mendapat predikat tingkat korupsi terbesar kedua di dunia. Jadi bukan suatu yang mengherankan jika sebagian besar warga negara Indonesia menjadikan korupsi sebagai guide of life (pegangan hidup) sehari-sehari. Apalagi sistem birokrasi yang tampaknya memberikan angin segar bagi para koruptor, baik itu dalam skala kecil maupun yang dalam sekala besar, dengan artian menilep uang negara tanpa rasa bersalah sedikitpun bahkan membela mati-matian jika si Koruptor dihadapkan batu sandungan berupa pangadilan, yang dalam hal ini diwakili oleh Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK). Saat menjelang lebaran seperti sekarang ini pemberian dalam bentuk parsel, Soufenir, atau hadiah biasa diberikan oleh pejabat negara yang satu kepada yang lain yang awalnya memang tak tak bisa dipungkiri sebagai bentuk tali silaturrahim bagi sesama muslim atau mempererat tali persaudaraan bagi yang non-Islam.
Tapi gejala lain menunjukkan bahwa nilai dan bentuk pemberian tadi semakin hari semakin tak proporsional atau dengan kata lain melebihi batas kewajaran. Dari segi esensinya pun parsel atau pemberian tadi bisa berubah bentuk dari berupa uang menjadi bentuk lain dengan nilai yang lebih besar. Mungkin dengan alasan itulah menurut penulis KPK melarang pejabat publik atau pejabat negara mengirim dan menerima parsel. Persoalannya, kenapa KPK melarang pejabat negara menerima dan mengirim gartifikasi? Sebab, parsel merupakan salah satu bentuk tindakan yang jelas bernuansa korupsi. Hal itu diatur Dalam Undang-undang No 20/2001 pasal 12 B ayat 1 dan 2 bahwa setiap tindakan gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggao pemberian suap apabila berhubungan dengan jabatan dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya. Dengan undang-undang tadi, setiap pejabat negara yang menerima bingkisan atau parsel wajib melapor kepada KPK untuk diverifikasi, apakah pemberian itu benar-benar sebagai bemtuk pemberian yang murni, atau pemberian tadi memiliki keterkaitan dengan jabatan, dengan kata lain suap tersamar.
Dari pemaparan tadi, penulis sangat setuju dengan tesisnya Dennis F. Thompson dalam Political Ethics and Public Office ( 1993) yang menulis, bahwa pemberian gratifikasi merupakan bagian dari pelanggaran etika. Karena secara ringan saja kebiasaan tadi sangat tak bermoral atau bahkan tak manusiawi jika melihat fakta realita yang ada sekarang ini yang sebagian besar masih terjerat dengan kemiskinan serta utang yang menjerat leher ditambah dengan bencana yang bak hujan deras yang turun dari langit menimpa bangsa Indonesia ini.
Memang pada prinsipnya pemberian tadi ada benarnya menngingat kita adalah sebagai makhluk social yang tak akan luput dari yang namanya mansyarakat lain yang itu juga bias berbentuk rasaimpatik atau penghormatan kepada yang lain yang juga sesame pejabat. Intinya pemberian parsel tadi harus logis dalam artian wajar dalam tatanan bermasyarakat.
Akhirnya penulis beependapat pemberian parsel tadi sah-sah saja jika terlepas dari unsur kepentingam yang mengarah pada kepentingam plitik atau semacamnya. Terus timbul pertanyaan, bagaimana kita tahu bahwa itu ada kepentingan politiknya apa tidak? Itu menurut penulis terserah pada KPK. Tapi penulis mengutuk penberian parsel yang jumlahnya melebihi kewajaran, karena bukankH lebih baik jika parsel tadi diberikan kpeda yang lebih memerlukan, dengann kata lain pemberian parsel yang jumlahnya besar itu tak lain dari bentuk legalisasi korupsi berupa gratifikasi.

* penulis adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Saturday, October 07, 2006

Keberanian sang Reporter Bawah Tanah

Judul : The underground Reporter
Penulis : Kathy Kacer
Penerjemah : Purnawijayanti
Penerbit : Kansisius
Terbit : Pertama, 2006
Tebal : 217 halaman

Pada mulanya kehidupan yang dijalani oleh John Freund beserta teman-temannya di Budejovice ( baca; bu-de-ho-vi-sai), Cekoslavakia biasa-biasa saja, tapi setelah kedatangan tentara Nazi pada Maret 1939, mereka selalu dihantui perasaan takut. Penyiksaan, perlakuan kasar, serta penerapan aturan-aturan baru untuk rakyat secara perlahan mencekam perasaan warga setempat. Dari sinilah cerita yang mengambil gaya menulis laporan reportase ini bermula. Bagaimana saat peraturan-peraturan yang dibuat oleh kaki tangan Hitler sangat tak berpihak pada mereka orang Yahudi, malahan menganggap orang Yahudi sebagai penyebab kekalahan Jerman pada perang dunia pertama, karena sejak mengalami kekakalahan pada perang dunia itu keadaan di Jerman sangat memprihatinkan. Ekonomi yang serba parah yang menyebabkan banyak orang Jerman kehilangan pekerjaan.

Hitler yang memang anti-Yahudi menuding Yahudi sebagai penyebab seluruh kesulitan yang dialami oleh bangsa Jerman. Di tengah keadaan yang seperti itu banyak orang Jerman yang merasa senang, karena telah menemukan orang yang bertanggung jawab atas peceklik yang menimpa Jerman. Propaganda anti-Yahudi dan genosida itu tidak hanya berlaku pada bangsa Yahudi Jerman, di era 1920-1944, tetapi juga beberapa negara di Eropa lainnya. Termasuk di dalamnya Negara Cekoslavakia Negara tempat John bersama Ruda hidup

Di tengah diskriminasi dan kekejaman tentara Nazi, John Freund beserta teman-temannya merasa kehidupan mereka terasa hampa tak berarti, Karena mereka harus menaati peraturan-peraturan yang tak berpihak kepada meraka. Akhirnya atas inisiatif Ruda Stadler, mereka membuat majalah Klepy ( yang dalam bahasa Cheska berarti gossip).
Setelah sukes dengan edisi pertama, Klepy yang sebelumnya hanya diisi oleh Ruda mendapat sambutan yang luar biasa dari teman-teman sesama Yahudinya, khususnya anak-anak. Edisi demi edisi majalah Klepy mengalami kemajuan, yang semula hanya 3 halaman, kini menjadi 25 halaman sampai terbit 20 edisi pimpinan Ruda, dan 2 edisi berikutnya oleh anak yang bernama Milos.

Peraturan-peraturan baru terus dibuat oleh Hitler, termasuk di antaranya pada April 1942 semua warga Yahudi di Budejovice, kotanya John dan Ruda, diharuskan mengunggsi ke ‘Theresienstadt’, kota yang diperuntukkan bagi tahanan Yahudi dari Cekoslovakia dan sebagian wilayah Eropa yang kemudian diungsikan lagi menuju kota kematian , yaitu Auschwitz.
Di tengah ketakutan terhadap kematian di Theresienstadt, John bersama teman senasib kembali membuat majalah yang bernama Bobrick, yang diambil dari bahasa Cheska yang artinya “berang-berang” untuk menunjukkan semangat pekerja yang rajin.

Ternyata harapan yang sudah diharapkan oleh orang Yahudi terkabul juga saat tentara sekutu membuat pasukan Jerman dan teman-temannya menyerah pada Sekutu.

Novel karangan Kathy Kacer ini walaupun sedikit membosankan karena gaya bercerita ala wartawan patut diacungi jempol karena berkat ketekunan, serta keberanian penulisnya buku ini dapat kita nikamati sebagai warisan perang Dunia kedua yang notabene sekaligus sejarah yang sangat berarti bagi kelangsungan sejarah kehidupan dunia. Selamat membaca…!

* Penulis adalah Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakartatersadar

Tuesday, September 26, 2006

G30S: Arus Balik Soekarno

Akhmad Kusairi*

Gerakan 30 September (G30S), atau Gestapu mungkin hanya setetes dari air di lautan yang maha luas bagi sejarah perjalanan dunia, tapi bagi Indonesia G30S sangat berarti, karena di sinilah sejarah Indoenesia bermula dengan pemerintahan baru yang mengaku dirinya Orde Baru. Membicarakan G30S secara otomatis akan membuat kita kembali menengok sejarah yang sampai sekarang masih menimbulkan pro dan kontra, lengkap dengan teori seputar kejadiaannnya, termasuk di dalamnya teori yang mengatakan bahwa presiden Soekarno terlibat dengan tragedi militer sepanjang tahun enam puluh lima tadi, yang dilontarkan oleh Anthony Dake.
Lambert Guebels dalam buku yang berjudul De Fatale Gebeurte Nissen yang terbit medio tahun 2005, dengan cermat menuliskan suasana pada hari sepanjang tahun 1965, saat sekelompok tentara Angkatan Darat dengan dukungan massa komunis berusaha merebut kekuasaan dan akhirnya malah menyeret runtuhnya kekuasaan presiden Soekarno. Apakah presiden Soekarno terlibat? Bagaimana peran DN Aidit bersama partai komunis Indonesia (PKI) yang dipimpinnya? Siapa di balik Letnan Kolonel (Letkol) Untung, tokoh yang secara terbuka mengaku dirinya komandan G30S, serta menculik enam jenderal Angkatan Darat? Mengapa Panglima Kostrad Mayjen Soeharto berhasil memulihkan situasi dan dahkan akhirnya tampil menggantikan presiden Soekarno?
Sejak lengsernya rezim Orde Baru pada tahun 1998 di tanah air dikenal beberapa versi sejarah yang berbeda. Selain menonjolkan keterlibatan pihak asing seperti CIA, juga muncul tudingan terhadap keterlibatan Soeharto dalam "Kudeta Merangkak", yaitu rangkaian tindakan dari awal Oktober 1965 sampai keluarnya (Supersemar) Surat Perintah Sebelas Maret 1966 dan ditetapkannya Soeharto sebgai pejabat Presiden tahun 1967. "Kudeta Merangkak" terdiri dari beberapa versi ( Saskia Wieringan Peter Dale Scot ), dan beberapa tahap.

Polemik Pemikiran
Gerakan yang mengakibatkan gugurnya enam Jenderal dan seorang perwira Angkatan Darat itu memang meninggalkan banyak pertanyaan, yang masih perlu dicarikan jawabannya. Kalaupun ada yang pasti dari peristiwa G30S malam itu adalah berubahnya jalan hidup presiden Soekarno. Sinar matahari yang menyinari bumi pada tanggal 1 Oktober dan hari-hari sesudahnya tak lagi tampak sama di mata presiden Soekarno. Sejak pagi itu, perlahan namun pasti mulai surut ke belakang. Tanggal 1 Oktober merupakan Turning Point (Arus Balik) dalam perjalanan hidup Bung Karno. Karena peristiwa G30S, sehari sebelumnya mengawali kejatuhan Bung Karno dari tampuk kekuasaannya.
Sejak peristiwa naas G30S, Presiden Soekarno bukan lagi pemipin tertinggi di Indonesia. Pada hari yang sama Pangkostrad Mayjen Soeharto mulai membangun kekuatan tandingan yang secara sepihak mengambil alih Pimpinan Angkatan Darat dari tangan Jenderal Ahmad Yani, yang belum diketahui keberadaannya. Bukan itu saja, Soeharto juga mencegah beberapa perwira yang dipanggil presiden Soekarno untuk menghadap.
Siang hari, dalam pertemuan dengan menteri Angkatan Udara, Laksdya Omar Dani, Menteri Angkatan Laut, Laksdya RE. Martadinata, serta Menteri Polisi, Inpspektur Jenderal, Soetjipto Joedo Diharjo, Presiden Soekarno memutuskan untuk megambil alih seluruh tanggung jawab dan tugas Menteri Angkatan Darat, serta mengangkat asisten Menteri Angkatan Darat bidang personel, Mayjen Pranoto Reksosamudro sebagai Caretaker Menteri Angkatan Darat.
Usai pertemuan itu, pukul 17.00, Presiden Soekarno memerintahkan ajudannya, Kolonel Bangbang Widjanarko, memanggil Mayjen Pranoto Reksosamudro untuk menghadap. Namun seperti pada harinya, Mayjen soeharto kembali menegaskan bhwa untuk sementara Ia memegang kendali Angkatan Darat. Dengan alasan, Ia tak ingin Angkatan Darat kehilangan Jederalnya lagi.
Pembangkangan terhadap Presiden Soekarno itu bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh Mayjen Soeharto. Sebab di saat Presiden Soekarno gencar-gencarnya berkonfrontasi dengan Malaysia, di Kostrad dibentuk operasi khusus (Opsus) Letkol Ali Moertopo dan dibantu Mayor LB Moerdani. Personel Opsus secara diam-diam melakukan kontak rahasia dengan pihak Malaysia untuk mengupayakan perdamaian antara kedua belah pihak.
Dalam buku yang bertajuk Memoar Oei Tjoe Tat Pembantu Presiden Soekarno, terbitan Hasta Mitra, Oei Tjoe Tat menuturkan,"Dengan cepat iklim dan suasana politik di ibu kota bergeser 180 derajat. Menrut pengamatan saya, sejak 1 dan 2 Oktober 1965 kekuasaan de facto sudah terlepas dari tangan Presiden selaku penguasa Republik Indonesia. Memang padanya masih ada corong mikrofon, tetapi inisiatif, dan kontrol atas jalannya situasi sudah hilang".
Supersemar, Arus Balik Soekarno.
Setelah usaha merebut jabatan di dalam kabinet dikuasai berhasil, Soeharto ternyata tak berhenti sampai di situ, Ia terus mengganggu pemerintahan Presiden Soekarno. Meskipun Ia merupakan salah seorang menteri dalam pemerintahan itu, dengan mengerahkan Mahasiswa turun ke jalan untuk berdemontrasi. Gangguan itu mencapai puncaknya pada tanggal 11 Maret 1966 yang ditandai dengan pengerahan pasukan tak beridentitas di balik Para Mahasiswa yang mengadakan unjuk rasa. Peristiwa ini berbuntut dikeluarkannya Supersemar 1966.
Setelah mendapatkan Supersemar, keesokan harinya Soeharto langsung membubarkan PKI dan orgsnisasi massanya, serta menytakan PKI sebagai organisasi terlarang. Pada ta7 Maret Soeharto menahan 15 menteri kabinet Dwikora yang diduga terlibat G30S dan memasukkan orang yang mendukung. Presiden Soekarno mengkritik keras tindakan Soehrarto, dan menyebutnya sebagai bertindak di luar wenangannya. Namun Soeharto tak menggubrisnya.
Situasi itu membuat ajudannya, Bambang Widjanarko dalam buku, Sewindu Dekat dengan Bung Karno menulis," Berdasarkan Surat Perintah sebelas Maret yang ditandatangani oleh BK sendiri itulah jalan hidup BK berubah, dan karier politiknya berakhir.
Kalau mau, Presiden Soekarno masih bisa bertahan dan menghadapi rongrongan Pangkostrad Mayjen sooeharto terhadap kekuasaannya, karena masih banyak rakyat serta kesatuan-kesatuan angkatan bersenjata yang berdiri di belakangnya yang secara terbuka menyatakan siap membela Presiden Soekarno. Namun instruksi untuk bertindak tak pernah ada. Dari orang-orang terdekatnya, diketahui bahwa Ia tak ingin melihat perang saudara terjadi di Negara kesatuan republik Indonesia, apalagi anacaman neokolonisme sudah ada di pelupuk mata.
Akhirnya Sang Fajar merelakan adanya mentari yang akan terbit. Dengan ketetapan MPRS nomor XXXIII / MPRS/ 1967, tentang pencabutan kekuasaan pemerintahan negara dari tangan Presiden Soekarno, dan mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Presiden.


* Penulis adalah mahasiswa Aqidah filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.